Wajib Halal Produk Impor Diundur ke Oktober 2028: BPJPH dan Label
Berdasarkan Undang-Undang (UU) No. 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal dan Peraturan Pemerintah (PP) No. 42 Tahun 2024, sebagaimana diubah dengan PP No. 40 Tahun 2026, makanan, minuman, dan kosmetik wajib bersertifikat halal agar dapat dijual di Indonesia, termasuk produk impor, tetapi tenggatnya diundur dari Oktober 2026 ke Oktober 2028: mulai 18 Oktober 2028 untuk makanan dan minuman impor, dan untuk kosmetik setelah tahap kewajiban bertahap berakhir pada 17 Oktober 2028; BPJPH, Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal, telah menyatakan bahwa aturan ini mencakup produk asing yang masuk ke Indonesia. Eksportir dapat menggunakan sertifikat halal dari lembaga sertifikasi halal luar negeri yang disetujui BPJPH, yang diregistrasi oleh importir Indonesia di sistem SIHALAL, atau melakukan sertifikasi langsung melalui BPJPH. Produk yang dibuat dari bahan non-halal tidak memerlukan sertifikat, tetapi wajib diberi label non-halal.
Diperiksa berdasarkan sumber resmi: 2026-11
Tulis pesanan Anda dalam satu kalimat, dapatkan invoice dan packing list → Gratis, tanpa daftar.
Sekilas info
Siapa yang wajib bersertifikat halal, dan kapan
UU No. 33 Tahun 2014 mewajibkan produk yang masuk, beredar, dan diperdagangkan di Indonesia bersertifikat halal, dan PP No. 42 Tahun 2024 menetapkan tahapannya menurut jenis produk. Untuk makanan dan minuman, usaha menengah dan besar Indonesia wajib bersertifikat paling lambat 17 Oktober 2024. Tahap kewajiban bagi usaha mikro dan kecil, bagi makanan dan minuman dari luar negeri, serta bagi kosmetik semula berakhir pada 17 Oktober 2026. PP No. 40 Tahun 2026, yang ditetapkan pada 14 Oktober 2026 dan diumumkan oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada 16 Oktober 2026, mengubah PP 42/2024 dan menggeser tanggal-tanggal tersebut: tahap kewajiban bertahap bagi usaha mikro dan kecil serta bagi kosmetik kini berakhir pada 17 Oktober 2028, dan bagi makanan dan minuman dari luar negeri kewajiban dimulai pada 18 Oktober 2028, dengan mempertimbangkan penyelesaian perjanjian saling pengakuan sertifikat halal. Sebelum perubahan itu, Pasal 160 PP tersebut menyerahkan penetapan tanggal untuk produk dari luar negeri kepada Menteri, paling lambat 17 Oktober 2026.
Pada Juni 2026, kepala BPJPH menyatakan bahwa kewajiban ini mencakup tidak hanya barang dalam negeri, tetapi juga produk asing yang masuk ke Indonesia, dan BPJPH berkoordinasi dengan kementerian lain mengenai pengendalian impor. Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia (DFAT) mencantumkan tenggat berikutnya: obat tanpa resep paling lambat 2029, obat resep paling lambat 2034, dan alat kesehatan Class D paling lambat 2039. Periksa tenggat untuk kategori produk Anda dengan importir.
Pada Oktober 2026, BPJPH menyatakan bahwa penyesuaian ini mempertimbangkan kesiapan ekosistem halal serta masukan pelaku usaha dan industri, dan meminta pelaku usaha memanfaatkan waktu itu untuk bersiap, bukan menunda sertifikasi. BPJPH juga mengingatkan tentang penipuan oleh pihak yang mengatasnamakan BPJPH dan meminta pembayaran denda atau sanksi; informasi resmi hanya ada di bpjph.halal.go.id.
Menggunakan sertifikat halal dari negara Anda sendiri
- Sertifikat harus diterbitkan oleh lembaga sertifikasi halal luar negeri yang telah disetujui BPJPH berdasarkan perjanjian saling pengakuan, untuk kategori produk yang bersangkutan. DFAT Australia, misalnya, mencantumkan lembaga-lembaga Australia yang disetujui BPJPH beserta cakupan setiap persetujuan.
- Importir Indonesia, bukan eksportir, yang meregistrasi sertifikat halal luar negeri di portal SIHALAL milik BPJPH. Biayanya dilaporkan sebesar IDR 800,000 per sertifikat pada Agustus 2024.
- Setelah diregistrasi, produk dapat mencantumkan logo halal Indonesia dan nomor registrasi.
- Jika lembaga sertifikasi Anda tidak disetujui BPJPH, produk dapat disertifikasi langsung melalui proses BPJPH di Indonesia, oleh importir atau perwakilannya.
Pemeriksaan halal saat impor
Peraturan BPJPH No. 4 Tahun 2026 tentang kesesuaian produk halal luar negeri yang masuk ke Indonesia, yang berlaku sejak September 2026, menambahkan pemeriksaan halal sebelum pemberitahuan impor barang (PIB), dengan inspeksi di gudang pemuatan oleh surveyor yang ditunjuk. Pemerintah mengumumkan pada 16 Oktober 2026 bahwa peraturan ini akan dicabut, dan basis data hukum BPJPH mencatat PP No. 40 Tahun 2026 sebagai peraturan yang mencabutnya, jadi pastikan dengan importir Anda apakah pemeriksaan itu masih berlaku sebelum melakukan booking pengiriman.
Label: logo halal dan produk non-halal
Produk bersertifikat halal wajib menampilkan logo halal resmi BPJPH dan nomor registrasi atau nomor sertifikat. Warna ungu adalah warna logo yang diutamakan, dan hitam putih diterima dengan syarat teknis tertentu. Produk yang dibuat dari bahan yang diharamkan menurut hukum Islam, seperti babi, tidak mendapat sertifikat halal: berdasarkan Pasal 26 UU No. 33 Tahun 2014, pelaku usaha wajib mencantumkan keterangan non-halal pada produk, dan Peraturan BPJPH No. 3 Tahun 2026 mengatur bentuknya, yaitu "NON HALAL" atau "MENGANDUNG BABI". Aturan pelabelan Indonesia dari otoritas lain, seperti BPOM untuk makanan dan kosmetik, tetap berlaku.
Yang perlu disiapkan sebagai eksportir
- Tanyakan kepada importir kategori dan tenggat mana yang berlaku untuk setiap produk, dan apakah lembaga sertifikasi halal Anda disetujui BPJPH untuk kategori tersebut.
- Kirim ke importir sertifikat halal Anda, beserta legalisasi atau apostille yang dibutuhkan importir untuk registrasi, dan daftar produk dengan kode HS.
- Sediakan waktu untuk registrasi di SIHALAL dan untuk perubahan label apa pun sebelum pengiriman pertama setelah tenggat.
- Pastikan nama produk, kode HS, dan data produsen identik pada sertifikat halal, commercial invoice, dan packing list.
- Untuk produk yang mengandung bahan non-halal, sepakati pelabelan non-halal dengan importir, bukan mengupayakan sertifikasi.
Langkah demi langkah
- Periksa tenggat halal untuk setiap kategori produk dengan importir Indonesia Anda.
- Pastikan lembaga sertifikasi halal Anda disetujui BPJPH untuk kategori tersebut.
- Kirim sertifikat dan data produk agar importir dapat meregistrasinya di SIHALAL.
- Perbarui label dengan logo halal Indonesia dan nomor registrasi, atau dengan keterangan "NON HALAL".
- Samakan nama produk dan kode HS pada sertifikat halal, invoice, dan packing list.
Dokumen yang biasanya Anda perlukan
- Sertifikat halal dari lembaga sertifikasi halal luar negeri yang disetujui BPJPH
- Registrasi sertifikat halal luar negeri di SIHALAL (oleh importir)
- Commercial invoice dan packing list dengan nama produk dan kode HS yang sama
- Label produk dengan logo halal dan nomor registrasi, atau keterangan non-halal
- Izin impor Indonesia lainnya, seperti registrasi BPOM untuk makanan atau kosmetik
Masalah umum dan cara menghindarinya
Apa yang harus dilakukan: Gunakan lembaga sertifikasi yang disetujui untuk kategori produk tersebut, atau sertifikasi produk langsung melalui BPJPH.
Apa yang harus dilakukan: Samakan nama dan kode HS pada sertifikat, invoice, packing list, dan label sebelum registrasi.
Apa yang harus dilakukan: Produk tidak memerlukan sertifikasi halal, tetapi wajib mencantumkan keterangan non-halal dalam bentuk gambar, tanda, atau teks.
Apa yang harus dilakukan: Registrasikan sertifikat di SIHALAL, perbarui label, dan pastikan pemeriksaan impor dengan importir sebelum pengiriman, bukan saat barang tiba.
Sumber
- Undang-undang (UU) No. 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal BPK RI, JDIH (Indonesian legislation database)
- Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 42 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Bidang Jaminan Produk Halal BPK RI, JDIH (Indonesian legislation database)
- BPJPH dan K/L terkait rakor perkuat kebijakan produk impor jelang implementasi wajib halal Oktober 2026 Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH)
- BPJPH: 17 Oktober 2026 produk makanan minuman UMK harus sudah bersertifikat halal, bagaimana dengan produk luar negeri? Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH)
- Wajib Halal Berlaku 18 Oktober 2026, BPJPH Siapkan Aturan yang Memudahkan Pelaku Usaha Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH)
- BPJPH: Produk kosmetik wajib bersertifikat halal pada Oktober 2026 Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH)
- BPJPH Regulation 4/2026 on conformity of foreign halal products entering Indonesia JDIH BPJPH
- BPJPH Regulation 3/2026 on the form of the non-halal statement JDIH BPJPH
- BPJPH: wajib halal mencakup produk impor yang beredar di Indonesia ANTARA (Indonesian state news agency)
- Complying with Indonesian halal requirements Australian Government, Department of Foreign Affairs and Trade
- Press release HM.02.04/361/SET.M.EKON.3/10/2026: the government adjusts the phase-in of mandatory halal certification (16 October 2026) Coordinating Ministry for Economic Affairs (Kemenko Perekonomian)
- Government Regulation (PP) 40/2026 amending PP 42/2024 on the implementation of halal product assurance (enacted and promulgated 14 October 2026) JDIH BPJPH
- Halal certification phase-in adjustments set out in PP 40/2026: the details (Penyesuaian penahapan kewajiban sertifikasi halal diatur dalam PP 40 Tahun 2026, begini rinciannya) Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH)
- The government extends the halal certification phase-in to 2028 (Pemerintah memperpanjang penahapan sertifikasi halal hingga 2028) ANTARA (Indonesian state news agency)
- The government postpones mandatory halal certification to 2028 (Pemerintah tunda kewajiban sertifikasi halal hingga 2028) Katadata
Aturan sering berubah. Catatan ini adalah panduan praktis berdasarkan sumber di atas, bukan nasihat hukum. Pastikan persyaratan terkini dengan otoritas terkait, importir Anda, atau PPJK/customs broker berlisensi sebelum mengirim.
Email mingguan: perubahan aturan perdagangan
Satu email singkat setiap minggu dalam bahasa Inggris: aturan ekspor dan impor yang baru dan berubah dari sumber resmi, serta panduan dan alat baru kami. Gratis, bisa berhenti berlangganan kapan saja.
Catatan ekspor
Pertanyaan umum
Kapan sertifikasi halal Indonesia wajib untuk makanan impor?
Mulai 18 Oktober 2028 untuk makanan dan minuman dari luar negeri, dengan mempertimbangkan penyelesaian perjanjian saling pengakuan sertifikat halal; untuk kosmetik, tahap kewajiban bertahap kini berakhir pada 17 Oktober 2028. PP No. 40 Tahun 2026, yang mengubah PP No. 42 Tahun 2024, menggeser tanggal-tanggal ini dari Oktober 2026. Obat dan alat kesehatan menyusul kemudian.
Bisakah saya menggunakan sertifikat halal dari negara saya sendiri?
Bisa, jika diterbitkan oleh lembaga sertifikasi halal luar negeri yang disetujui BPJPH untuk kategori produk tersebut, dan importir Indonesia meregistrasinya di portal SIHALAL.
Siapa yang meregistrasi sertifikat halal luar negeri di Indonesia?
Importir Indonesia, melalui portal SIHALAL milik BPJPH. Biayanya dilaporkan sebesar IDR 800,000 per sertifikat pada Agustus 2024.
Apakah produk non-halal memerlukan sertifikat halal?
Tidak. Produk yang dibuat dari bahan yang diharamkan dikecualikan dari sertifikasi, tetapi wajib mencantumkan keterangan non-halal, "NON HALAL" atau "MENGANDUNG BABI", pada label.
Apakah kosmetik memerlukan sertifikasi halal di Indonesia?
Ya. Kosmetik yang dijual di Indonesia, termasuk produk impor, wajib bersertifikat halal setelah tahap kewajiban bertahap berakhir pada 17 Oktober 2028 (diundur dari 17 Oktober 2026 oleh PP No. 40 Tahun 2026), atau mencantumkan keterangan non-halal jika mengandung bahan non-halal.
Alat gratis lainnya
Triplicate gratis dan terus diperbaiki. Merasa terbantu? Dukung Triplicate ♥
Ingin tanpa iklan? Pro menghapus semua iklan · USD 1/bulan